Postingan

#4 - Tangga Kehidupan

Tangga Kehidupan  " Bahwasannya manusia hidup seperti kepiting,  ia akan mencapit sesamanya yang berhasil membangun puing,  untuk kembali turun di saat genting, "  ujar seseorang yang dahulu tak asing.  Akupun memikirkan belasan malam lamanya, bagaimana caraku hidup sebenarnya?  ... Kehidupan akan berfase seperti layaknya tangga yang berpijak. Kau akan melangkah naik satu persatu atau bahkan berjarak. Roda kehidupan setidaknya pernah menempatkan kau dan aku bertemu di pijakan yang sama. Dan kita telah berusaha bergandeng tangan saling menggapai asa. Dan berjalan maju disebelahmu adalah hal terindah yang pernah kurasa. Semakin lama tangga kehidupan kan memanjang dan menyempit. Sampai tiba waktunya waktu akan terus maju, itu artinya aku dan kamu harus terus melaju. Salah satu harus memimpin agar tangga sempit ini kan terlewati dan berlalu. Lalu, haruskah aku atau kamu? Tanpa ragu, jawabannya adalah kamu. Bukan karena kumengalah atau bahkan meremehkanmu. Aku b...

#3 - Jiwa Tak Bersua

Jiwa Tak Bersua  Jika cinta hanya sekedar kata,  apa yang terasa bila kata tak lagi dapat terucap?  Jika cinta hanya berbumbu tawa,  apa yang terasa bila tangis datang menghantam?  Jika cinta hanya memberi harapan,  apa yang terasa bila jalan buntu menghadang?  Ia adalah jiwa.  Tak menyentuh, tetapi ia menggugah.  Tak menambah, tetapi ia membara.  Cinta adalah pertemuan dua jiwa,  yang saling menyapa meski tak dapat berkata,  yang saling menjaga meski tak saling meraba.  Saat dua jiwa telah bertemu,  jiwa sendiri pun kelak kan berjiwa.  Bahkan ketika harapan membeku,  hanya jiwa yang mampu merasa.  ... Kini jiwaku tak lagi membara, dan jiwanya tak lagi menyapa dan menjaga. Ternyata, jiwa pun bisa melupa Bahwa ia benar-benar melara, saat ia dan jiwa miliknya tak lagi dapat bersua. -EN-

#2 - Guliran Pena

Guliran Pena  Jarum jam berdetak memberiku tanya, mengapa 8 pena kugulirkan padanya?  Delapan..  Bagaimana bisa wujud tanpa akhir,  memberi ujung penuh getir?  Angan sempat bersabda,  rasaku takkan merana,  tanpanya yang selalu merasa biasa saja.  Nyatanya,  aku hanyalah selembar kertas lara,  yang  tak lagi bermakna  nan berduka.  Perlahan habis dan berganti,  pena usai tak berfungsi.  Hingga cinta angkat kaki, tak satupun pena terisi lagi.  Goresan yang memaknai,  kemana engkau pergi?  ... Wahai pena yang kugulirkan, dengarkanlah aku dan lakukan. Ia tak perlu mengerti, tugasnya hanyalah menggoresmu pada lembaran kertas sunyi. Entah ia kan memberi tangis sepi, atau menoreh senyum berseri, satu hal yang pasti. Lembaranku kan t'rus berlari  bila kau selalu kubekali, padanya yang selalu di hati. Ia pasti lelah, t'rus mencoba pada pena yang sudah tak bertinta. Ia sudah penat, dan rasanya pasti t'...

#1 - Pinta tuk Semesta

Pinta tuk Semesta  Kala surya menuntun rasa rindu,  pertemuan ialah tujuan akhir tanpa sendu.  Aku dan kamu kala itu,  berbisik lembut pada langit biru...  Bersama roda empat melaju, kuterpukau akan makhluk disisiku.  Puluhan rute terlewati, seraya perahu terjang keruhnya mentari.  Pilu hilang, rindu menerang, senyum tawamu s'lalu terbayang.  Genggam tanganku erat bagai elang, seakan esok tak lagi datang.  Terngiang jelas lagu semasa, terus bergejolak menyambut senja.  Rasa mengalir begitu deras,  turunnya mentari menyaksikan kisah tanpa paras. 'Aku dan kamu menjadi kita, rasa menyatu tak bersisa. Aku dan kamu menjadi kita, seluruh kata semakin terasa.' Meski begitu indah tergali, tak berkutik 'tuk dapat kembali Waktu adalah alat paling keji, bagi seluruh kami yang bernadi Kini kusadari, semesta pun sudah tak lagi bersaksi ... Semesta dan waktu, kerap memberi kelegaan bagi yang rapuh, namun mengirimkan ragu bagi yang luruh. Bagai du...